Email: pgliipusat@gmail.com ✆: 0852 1117 8184 (whatsapp only), ☏ : 021 7252 831
banner

Politik Keterasingan – Identitas

“We are in Golus for our sins. We have been elected by Divine providence and must lovingly accept our sentence” Rabbi Israel Domb “The Transformation” [1958]

Identitas: Suatu Proses bukan Definisi

Hubungan agama dalam ruang publik tampaknya ditakdirkan untuk selalu ruwet, mulai dari masa pencerahan [lumieres/aufklarung] di abad 18 yang menggulirkan semangat anti klerus [laicate] dengan pekik perang Voltaire yang termashyur “crush the infamous one” [Smith, h.310] hingga Jurgen Habermas [1929 – ], pemikir Neo-Marxis Jerman penerus semangat aufklarung. Beranjak dari Habermas I yang alergi terhadap agama, bergulir ke Habermas II yang mulai memandang agama sebagai “perlu diperhitungkan” oleh demokrasi liberal, kepada Habermas III, yang kali ini mendesak baik warga sekuler dan warga beragama-agar saling belajar [Menoh, h.95].

Jangankan dalam jagad Kontinental, Islam saja yang selalu confident dalam mengklaim integralisme organik antara politik dan agama, tak luput dalam keruwetan simpul Gordian ini; Karim Siddiqui, pemikir Islam asal India, yang oleh Akber S. Ahmed, dikategorikan sebagai “pemikir radikal” dan “Ayatollah murkanya Inggris” [Ahmed, h.160], mengakui bahwa “Tidak ada satu bidang kehidupan manusia pun yang lebih membingungkan umat Muslim saat ini daripada bidang ilmu politik” [Siddiqui, h.114].

Di Alkitab, keruwetan tersebut telah nampak dalam perbedaan hidup Daniel, sebagai seorang yang hidup dengan mempertahankan identitas ke-Yahudian-nya di Babilonia, menyusul tumbangnya Yerusalem ibukota kerajaan Selatan di tahun 15/16 Maret 597 SM [Provan, h.277]. Dibandingkan dengan saudara-saudaranya dari Kerajaan Utara yang terlebih dahulu dibuang ke Assyria pada 722 SM, dan yang untuk sebagian besarnya hilang terserap dalam kebudayaan asing, entah itu Media atau Aram-Naharaim, lantas “punah” ditelan sejarah [Parfitt, h.3]

Namun mencermati narasi kisah Daniel, jelas di tanah asing [terra incognita], kita tak bisa menarik diri baik dalam sektarianisme ataupun asimilasi mutlak, namun, meminjam idiom filsuf wanita Yahudi-Amerika Hannah Arendt, mesti ada suatu vita activa, yakni nama lain dari nosi Aristotelian perihal manusia sebagai makhluk yang didedikasikan bagi kehidupan publik-politik [bios politikos] [Arendt, h.12]. Oleh Arendt, vita activa dijabarkan dalam tiga aktifitas dasariah manusia yakni “labor, work and action” [Arendt, h.7], melalui hal-hal ini, ia meletakkan harapan bahwa awalan-awalan baru [natality] dalam kehidupan politik akan tercipta [Arendt, 9]

Konsep politis Arendt diatas sangat berhubungan dengan pemahaman bangsa Romawi kuno perihal hidup; “hidup” bagi mereka senafas dengan “tinggal bersama-sama manusia” [inter homines esse], sedang “mati” maknanya sama dengan “terputus dari kehidupan bersama” [inter homines esse desinere] [Arendt, h.8]. Namun fakta pluralitas semacam ini pada gilirannya memancing pertanyaan klasik tentang siapakah manusia itu? Inilah pertanyaan yang Augustinus tanyakan di hadapan Allah, “Quid ergo sum, Deus meus Quae natura sum?” [aku ini apa,Tuhanku, apa hakekat-ku?].

Sesungguhnya di dalam manusia, terhampar suatu misteri besar [grande profundum] yang manusia tak ketahui [Arendt, h.10]. Musa, dalam tradisi Alkitab, bertutur bahwa Tuhan mencipta manusia serupa gambar-Nya, untuk hal mana tradisi Kristen lantas menambahkan bahwa manusia yang dibentuk dari Allah yang tak terselami, pada gilirannya tak terselami pula bagi dirinya sendiri [De Lubac, h.6-7].

Pertanyaan yang sama dapat kita tanyakan, yakni “siapakah umat Kristen itu?” Hal ini mengantar kita pada pemikiran kekasih Arendt, filsuf Jerman Martin Heidegger [1889-1976] yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk menyelidiki apakah ada [being] itu? Baginya pertanyaan itu telah dilupakan sejak jaman Gerika klasik, lantaran para pemikir dengan ceroboh memaknai ada dengan menghubungkannya dengan ada yang lain. Heidegger berargumen, “being is not that of class or genus” [Heidegger, Being and Time, h.22. 2008] “being cannot be understood as a being” karena “being is always the Being of a being” [Heidegger, h.44 & 50. 1993].

Memfokuskan investigasinya atas being kepada manusia [dasein], Heidegger berpendapat bahwa Dasein adalah sesuatu yang “menjadi”, manusia adalah lebih merupakan “ke-menjadi-an” [werden]’, ketimbang “ada” [sein] [Hardiman, h.87], ia adalah suatu kemungkinan [Hardiman, h.49], secara filosofis dapat dikatakan ada dari manusia tidak tersingkap seluruhnya seperti juga tidak seluruhnya terselubung [Hardiman, h.64].

Alasan saya memakai fenomenologi Heideggerian disini adalah guna membawa suatu kerangka kritik atas pendefinisian identitas kekristenan, guna menggeledah dan menemukan identitas macam apa yang kita sandang, yang atasnya kita mengada dan beroperasi sebagai suatu himpunan sosial, suatu modus vivendi. Hemat saya tanpa klarifikasi perihal identitas, maka segala aktifitas kolektif kita adalah sesuatu yang semarak namun tanpa pusat.

Selama ini identitas kita sering diformulasikan dalam atribut-atribut superior-bombastik sarat klaim kepastian, yang walau diaku bersumber dari teks suci dan “pewahyuan eksklusif”, namun acapkali verbalisme yang dimunculkan gagal mengidentifikasi apa yang hakiki dan hanya memuaskan diri dengan dekorasi semu.

Maka sekarang pertanyaannya adalah apa yang merupakan hakikat, esensi dan fitrah kekristenan khususnya di negara ini? Jawaban dari pertanyaan ini wajib memiliki kualitas ketersingkapan [erschlossenheit], tanpa pernah terkuras habis [exhausted], lantaran ada [being] adalah suatu proses menjadi yang tiada pernah tuntas.

Pertimbangan-pertimbangan diatas lantas membuat saya menarik kesimpulan [sementara], bahwa hakekat umat Tuhan di dunia adalah sebagai kaum eksil, kaum yang diasingkan dan terasing. Sepanjang PL-PB, banyak kita temukan narasi yang menggambarkan keadaan ini, Abram yang dipanggil Tuhan meninggalkan tanah nenek moyangnya untuk pergi ke suatu entah.

Spiritualitas Kristen mengajar kita untuk menjadi seperti Kristus [imitatio Christi], sesuatu yang menggemakan diktum St.Thomas Aquinas “omnia appetendo propriam perfectionem ipsum Deum appetunt” [apa saja yang mendambakan kesempuraan, mendambakan Tuhan sendiri] namun bukankah Anak Manusia adalah juga seorang eksil? Seorang yang “tercerabut dari akar-Nya” dan masuk dalam sejarah manusia. Kisah tokoh-tokoh Alkitab pelaku sejarah keselamatan adalah kisah kaum imigran dan buangan [galut].

Pun juga kita akrab dengan frase “ada di dunia namun bukan berasal dari dunia”, kita telah dilahirkan baru di dalam roh, namun diutus ke dunia, kita sedang mengalami realitas kerajaan Allah, namun sekaligus juga menantikan pemenuhannya. Hal-hal diatas merupa suatu kondisi ke-menjadi-an [becoming], bukan ada [being] yang statis, suatu “kontigensi sakramental” yang memfasilitasi dialektika ketersingkapan dan keterselubungan, sein dan aletheia.

Guna penelaahan kita, maka dalam artikel ini, saya hendak melakukan studi serba ringkas atas tiga bangsa dan kaum yang pada satu titik pernah menjadi kaum eksil politis dan imigran ekonomis, yakni bangsa Amerika, Ibrani dan kaum Islam Eropa, agar kita dapat dengan saksama menempatkan diri dan memperjuangkan ikhtiar-ikhtiar berbasis fitrah eksil tersebut sebagai bentuk prudentia dalam menanggapi providentia.



About PGLII