Email: pgliipusat@gmail.com ✆: 0852 1117 8184 (whatsapp only), ☏ : 021 7252 831
banner

Politik Keterasingan – Eksil dan Peradaban

Migrasi kaum Islam ke benua Eropa pertama dimulai tahun 1950-an. Mereka datang dari Asia [ke Inggris], Afrika Utara [ke Prancis] serta Turki [ke Jerman]. Hingga tahun 1970-an, jumlah penduduk Muslim di negara-negara Eropa telah menjadi 3x lipat, dan tahun 1990-an sudah ada sekitar 12-15 juta muslim di Eropa, baik yang datang dari kaum imigran maupun pribumi Eropa yang mualaf [Ramadan, h.135-136].

Pada abad pertengahan, para ulama Islam membagi dunia ke dalam 2 bagian besar: Dar al-Islam [wilayah dimana sistem pemerintahan Islam dilakukan] dan Dar al-Harb [wilayah perang, yakni wilayah dimana sistem pemerintahannya tidak Islami], wilayah ini sendiri mesti diperangi seturut dalil ulama Islam abad 14 Ibn’ Taimmiyah yang diteruskan oleh Abdul Wahhab pada abad 18.

Namun rupanya saat ini pembagian ini sudah tak realistis lagi, karena menurut pemikir Islam asal Swiss, Tariq Ramadan, kehidupan umat muslim di Eropa adalah lebih aman dan damai ketimbang di negara-negara Islam [h.143]. Mereka tak mengalami kebahagiaan di Yamen, Gaza, Afghanistan, Kenya, Sudan dll, dan lebih berbahagia [serta maju] di Jerman, Inggris, Swedia, Amerika, Kanada dan lain-lain.

Berkenaan dengan pengalaman exile ini, maka saya hendak menyatakan bahwa hidup Kristen utamanya ditujukan bagi pengasingan. Dalam Yer 4:5-9, Nabi Yeremia telah melihat datangnya “pemusnah bangsa-bangsa” yakni Babel, dan ia menyerukan agar Yerusalem menyerahkan diri kepada bangsa tersebut, namun segera ia mendapat perlawanan.

Hananya bin Azur bernubuat bahwa Babel akan tumbang dalam dua tahun [Yer 28], Yohanan bin Kareah menganggap seruan Yeremia sebagai dusta [Yer 43:2], Zedekia bin Yosia sang Raja terperangkap antara seruan Yeremia dan kehendak rakyatnya [Yer 38] dan Yoyakim bin Yosia mengoyak-oyak gulungan kitab yang diberikan Yeremia padanya, yang berisi berita bahwa Raja Babel akan memusnahkan Yerusalem [Yer. 36] [Howard-Brook, h.379-370]

Adalah jelas dalam Yer 42:9-22, Yeremia menyatakan bahwa YHWH berkehendak agar orang-orang Yehuda tinggal di Babel. Babel lebih disukai YHWH sebagai tempat shalom Allah ketimbang Mesir, meminjam perkataan Wes Howard Brook, seruan Yeremia adalah “surat pertama dalam Alkitab yang mewartakan kehendak YHWH untuk tunduk pada sebuah imperium asing” [Brook, h.379]. Karena bahkan justru mereka yang tetap tinggal di Yerusalem dan tak ikut dibuang, yang tampaknya melakukan kawin campur, dan lantas belakangan menentang pembangunan tembok kota oleh Yeremia [Provan, h.294]

Namun apa guna migrasi dan pengasingan tersebut? Tradisi akademik menyatakan bahwa kitab II Raja-Raja menilai peristiwa ini secara negatif, yakni hukuman Allah atas ketidak-taatan umat-Nya, sehingga menciptakan akhir sejarahnya [sementara]. Kitab Tawarikh melihatnya sebagai pemberian sabbath kepada tanah Israel, sedang kitab Yeremia melihatnya sebagai hukuman maupun berkat [Albertz, h.4-15]. Saya sendiri melihat exile sebagai mekanisme konsolidasi bagi evolusi peradaban Yahudi di masa depan.

Kaum Yehuda pra-pembuangan kebanyakan adalah petani dan peternak. Ketika Daniel dan kawan-kawan dipaksa pindah ke Babel, dunianya menjadi lebih besar, karena kerajaan Babel adalah sebuah metropolitan dunia saat itu. Perihal jumlah kaum diaspora, memang banyak kesimpang-siuran, namun 3 gelombang pembuangan [597, 586 & 582 SM] diyakini mencapai jumlah 4,600 jiwa [Purvis, h.202-203]

Apa yang mereka kerjakan? Tak ada catatan tentang hal itu, namun di Kota Nippur, Iran, para arkeolog menemukan 879 dokumen keuangan kuno milik keluarga Murashu dari Persia yang mencatat bahwa saat itu [abad 5 SM] setidaknya 80 orang Yahudi menjadi pedagang dan banker di Persia. Nampaknya mereka berhasil, jadi banyak juga yang akhirnya enggan pulang ke Yerusalem [Provan, h.282-283 & Purvis, h.207].

Selain itu kita juga tahu akan naiknya orang-orang Yahudi dalam posisi-posisi politis dalam masa pemerintahan Persia [Scheindlin, h.28]. Bergabungnya orang-orang Yahudi pelarian dalam legiun militer Syene Mesir seturut papyrus Elephantine [Purvis, h.213] [Yer 40:11-12, 41:15], keberhasilan Ezra dan Nehemia merekonstruksi ulang iman kolektif yang lalu dihubungkan dengan identitas sosial dan politik [Purvis, h.229] munculnya Talmud Babylonia dari kaum buangan di Persia [Levine & Knight, h.368], sebagaimana terdapat sinagoga bagi Yahudi pengasingan Mesir [Purvis, 215], inkorporasi sistem pemerintahan, perpajakan dan mata uang Persia [Purvis, h.225-226] serta yang terutama tetap terhubungnya komunitas aliyah dan diaspora dalam satu sentimen etno-politis, sesuatu yang tetap berlangsung hingga kini.

Semua hal diatas adalah bahan baku peradaban, maka tak heran ketika dalam Ezra diperkenalkan sistem pemerintahan lokal kaum aliyah dibawah pimpinan “tua-tua Yehuda” dan “tua-tua Israel” [Ezra 8:1 & 14:1], hal tersebut masih terjadi sampai hari ini, yakni komunitas-komunitas agama tertentu yang diakui pemerintah Israel memiliki wewenang-wewenang domestik, sesuatu yang disebut “Millet”, yang diyakini berakar dari tradisi pasca-pembuangan kaum Yehuda [Helyer, h.31]. Maka bagi saya tampaknya guna memantik evolusi peradaban inilah, Yahweh mengijinkan terjadinya pembuangan, khususnya bagi kaum Yehuda. Lantas bagaimana kaum eksil ini hidup? Hal ini membawa kita pada pokok perihal kultur kaum eksil



About PGLII