Email: pgliipusat@gmail.com ✆: 0852 1117 8184 (whatsapp only), ☏ : 021 7252 831
banner

Politik Keterasingan – Budaya Eksil

Hemat saya budaya kaum eksil terdiri dari dua spektrum, yakni bagi kalangan sendiri dan bagi masyarakat luas. Mari kita tinjau tiga nilai bagi kalangan sendiri:

  1. Konservasi Tradisi

    Daniel tetap menyembah Allah tiga kali sehari [Dan 6:10-11] yakni doa harian orang Yahudi, sewaktu pagi [shaharit], siang [minhah] dan petang [maariv] [Bresleuer, h.16], pun ia tak menajiskan diri dengan makanan raja [Dan 1:8], yang mungkin tidak kosher. Segel pembuangan dari abad 6 SM yang ditemukan, oleh arkeolog Israel Nahman Avigad diyakini memuat kata-kata yang mengimplikasikan kecintaan atas YHWH di pembuangan [Purvis, h.211].

    Pada abad 17-18, adalah orang Inggris yang berimigrasi ke Amerika untuk alasan-alasan politis, agama dan ekonomi, kemudian pada paruh pertama abad 19 adalah orang Irlandia dan Jerman, dan pada akhir abad 19 dan awal abad 20, adalah imigran asal Italia & Eropa Timur. [Kennedy, h.33-34].

    Ketika Amerika baru berdiri, segera mereka melakukan amandemen pertamanya atas konstitusi yang melarang negara memihak agama manapun serta menjamin adanya kebebasan beribadah sesuai tulisan James Madison pada 1785 dan tulisan Thomas Jefferson “Rancangan Undang-Undang untuk Menciptakan Kebebasan Beragama” [Kennedy & Alderman, h.50].

    Dalam dunia Islam Eropa, tercatat jumlah organisasi Islam meningkat terus, sebagian negara seperti Prancis, Jerman dan Inggris telah mencatat lebih dari seribu organisasi resmi [per 1999] yakni seperti mesjid, Islamic center dan sebagainya [Ramadan, h.137]. Di Jerman sendiri terdapat 206 Masjid, 2,600 rumah ibadah kaum Muslim, dan 120 Mesjid sedang dalam tahap pembangunan, maka tak heran di Jerman, Islam adalah agama nomor dua setelah Kristen [Internet].

    Kaum eksil sejati mempertahankan dan merawat tradisinya, mereka tak menggerusnya atas nama “kontekstualisme”, lantaran mereka satu dalam keyakinan akan bekerjanya faktor ilahi dalam realitas harian yang dihidupi.

  2. Egalitarianisme

    Negera Israel modern lahir dari gelombang kepulangan [aliyah] orang-orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia [diaspora]. Aliya pertama para pionir [halutzim] terjadi pada 1882-1903, kedua [1904-1913], ketiga [1919-1924] dan keempat [1923-1926] [Breslauer, h.139 & Laqueur, h.277-278].

    Aaron David Gordon yang datang dari aliya kedua meyakini bahwa umat Israel di tanah baru mesti menjadi bangsa yang mandiri dengan cara gotong, maka lantas ia menciptakan sistem kibbutzim yakni prinsip sosial bekerja sama dengan beban kerja yang sama dan mendapat hasil yang sama, bahkan tinggal bersama [Breslauer, h.172].

    Sarjana Prancis Alexis de Tocqueville yang mengembara ke hampir seluruh bagian Amerika, menyimpulkan ciri negara baru ini dalam bukunya “Democracy in America” bahwa “…saat meninggalkan negara leluhurnya para imigran tidak memiliki pikiran lebih unggul satu terhadap yang lain” [Kennedy, h.3]. “Penolakan terhadap Eropa”, yang menganggungkan konsep hirarki sosial, kebangsawanan dan gelar-gelar yang memicu konflik kelas yang memahitkan, “merupakan alasan utama eksistensi Amerika” demikian kata novelis John Dos Passos [Hook & Spanier. h.11]. Kaum eksil adalah kaum egaliter.

    Di titik ini perlu juga dinyatakan dua fakta kontra-intusi, pertama, dalam sejarah awal perbudakan di masa pra-kemerdekaan Amerika [sekitar 1619], koloni Virgina yang membawa tenaga kulit hitam “dipesan” layaknya pembantu rumah tangga kulit putih. Setelah melayani beberapa waktu, “budak” kulit hitam tersebut, bukan saja dibebaskan, melainkan juga diberi pesangon berupa tanah, persis seperti perlakuan terhadap “budak” kulit putih [Sowell, h.261].

    Pada masa awal gerakan zionis, terdapat penentangan yang hebat atas aspirasi politis dari Theodor Herzl oleh kaum religius, khususnya rabi-rabi dari Eropa Timur, mereka [yang tergabung dalam Agudat Israel, atau Neturai Karta untuk jaman ini] meyakini bahwa pendirian negara demi keselamatan bangsa, adalah sesuatu yang mendahului wewenang mesias, dan olehnya mesti ditolak, bahkan dalam satu kesempatan, mereka meminta bantuan pemimpin-pemimpin Arab guna melawan “dominasi Yahudi” [politis] [Laqueur, h.407-410]

  3. Bela Rasa

    Masa sebelum tersusunnya naskah konstitusi pada 1787, para imigran yang datang ke Amerika telah mendirikan setidaknya 17 lembaga bantuan [charitable associations] khususnya bagi orang-orang sakit, usahawan yang gagal, para yatim, penunggak pajak yang tak kelaparan, membangun gubuk bagi para pelaut yang mengalami karam kapal dan lain-lain. Dan sampai tahun 1817, telah terdaftar 1,400 lembaga sejenis di-berbagai kota [Wood, h.436-437]. Ada solidaritas yang tinggi di antara kaum eksil.

    Sedangkan bagi dunia luar, ada dua nilai sentral kaum eksil, yakni:

    1. Pribumisasi Identitas

      Walaupun tetap berpaut pada tradisi, namun aplikasi sentimen itu tidak dilakukan secara vulgar dan demonstrative. Daniel bersama 3 rekannya diberi nama pagan, pun juga dengan Sesbazar [Ezra 1:8] dan Zerubabel bin Sealtiel [Ezra 3:8], salah seorang pemimpin kepulangan, yang namanya berarti “benih Babel”,

    2. Kontribusi bagi Masyarakat

      Pemikir Muslim Prancis Faishal Maulawi berkata bahwa pembagian dunia atas dar al-Islam dan dar al-harb sudah tak relevan lagi. Ia mengusulkan dunia ketiga yang disebutnya dar ad-dakwah, yakni bahwa umat Muslim [Eropa] bukan berada di kedua wilayah itu, namun dalam medan dakwah.

      Wilayah yang sekarang mereka hidupi adalah ruang persaksian yakni bahwa dimana pun mereka berada, mereka mesti meningkatkan kebajikan dan keadilan di dalam persaudaraan manusia. Wawasan umat Muslim Eropa harus berubah, dari sekedar “proteksi diri” menjadi “kontribusi nyata”, lewat semua ini menurut Ramadan, umat Muslim dapat menyaksikan kekayaan mereka [Ramadan h.167]

      Mantan Presiden Amerika John F.Kennedy dalam bukunya “A Nation of Immigrants” [1964] berkata “Melalui kecerdikan, kerja keras dan imajinasi mereka [kaum imigran perintis], dari hutan belantara, mereka mampu menciptakan sebuah bangsa yang subur dan makmur…kaum imigran telah memberikan aliran keterampilan dan cita-cita yang terus-menerus mengalir dan memperkaya bangsa kita…” [Kennedy, h.131-132, 135-136].

      Perintah Tuhan kepada kaum Yehuda yang dibuang ke Babilonia pun bernada sama, Yeremia 29:7 “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” [cf: I Pet 2:11-12]. Kita dipanggil bukan hanya untuk mengolah dan membangun lokasi pengasingan [golus] kita, namun juga menghadirkan natality yang emansipatif bagi kemaslahatan bersama sekaligus mendukung keberlanjutan kita sebagai sebuah kaum, semacam motto Mgr.Soegijopranoto “100% Katolik, 100% Indonesia”, inilah gema gagasan vita activa.



About PGLII