Email: pgliipusat@gmail.com ✆: 0852 1117 8184 (whatsapp only), ☏ : 021 7252 831
banner

Menerima Pribadi yang Sukar

Dari antara sekian banyak kata yang menjadi ciri masyarakat yang modern ada dua kata yang perlu kita perhatikan. Di dalam bahasa Inggris kata yang pertama adalah disposable, dan yang kedua yaitu pain free.

Disposable, artinya dapat dibuang. Disposable product artinya barang-barang yang selesai dipakai satu kali kemudian boleh dibuang. Sebagai contoh adalah piring disposable, sekali pakai lalu dibuang. Cangkir disposable, sekali pakai lalu dibuang. Popok disposable, sekali pakai lalu dibuang. Sumpit disposable, sekali pakai lalu dibuang, dan masih banyak lagi.

Apakah pemikiran di balik semua ini? Tidak mau repot! Buat apa harus susah-susah mencuci piring, cangkir, popok, dan sumpit yang telah digunakan? Selesai pakai, buang saja! Artinya kita ingin hidup secara pain free, bebas dari kesulitan. Bila menyulitkan, buang saja.

Sikap hidup seperti ini sadar atau tidak sadar juga merasuk ke dalam pola relasi antar pribadi. Akibatnya orang tidak mau bersusah-susah dalam menjalin relasi. Apabila di dalam relasi terjadi kesukaran maka orang tersebut akan memutuskan untuk membuang orang yang sukar tersebut dari kehidupannya.

Teman yang merepotkan, buang saja. Pegawai yang merepotkan, buang saja. Rekan pelayanan yang merepotkan, buang saja. Bahkan bukannya tidak mungkin ada orang yang berpendapat kalau istri merepotkan, tinggalkan saja. Atau bila suami merepotkan, buang saja!

Sikap tidak mau repot dan buang saja dalam relasi ini akan sangat merugikan diri kita, sebab mengakibatkan kita kehilangan kesempatan untuk mengalami keindahan dari pembentukan Tuhan di dalam kehidupan kita.

Tidak terbebas dari pribadi yang sukar

Kita harus mengingat bahwa di dalam realita kehidupan acapkali kita tidak dapat terbebas dari para pribadi yang sukar ini. Sama seperti yang dialami oleh Daud dengan kehadiran Raja Saul di dalam kehidupannya.

Di dalam Kitab 1 Samuel dicatat bahwa Daud telah berbuat banyak jasa terhadap Raja Saul. Ia membantu Saul dalam mengalahkan Goliat, raksasa Filistin yang terus menerus meneror orang Israel dan membuat para prajurit Israel, termasuk Raja Saul, dalam keadaan tidak berdaya karena ketakutan. Kemenangannya atas Goliat ini mengakibatkan Daud diangkat menjadi menantu oleh Raja Saul.

Namun di dalam kenyataan, bukannya Saul merasa bangga terhadap menantunya, Daud, tetapi justru membenci Daud dan berulangkali berupaya membunuh Daud. Dua kali ia melemparkan tombak untuk membunuh Daud. Ia mengejar-ngejar Daud dengan maksud untuk membunuh menantunya ini. Hal ini antara lain dicatat di dalam 1Samuel 26:1-12.

Hal serupa lah yang sering kita hadapi di dalam kehidupan kita sehari-hari, entah di dalam rumah tangga, pekerjaan, sekolah, pelayanan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang kita telah berbuat baik kepadanya bukannya berterimakasih, namun malahan memusuhi kita. Merekalah yang saya istilahkan sebagai “pribadi yang sukar.” Masa lampau yang sukar yang pernah ia lewati membuat dirinya sukar untuk membangun relasi yang sehat dengan orang lain. Bahkan terhadap anak maupun pasangan hidupnya ia sukar untuk membangun relasi yang sehat. Walaupun kita telah berlaku baik kepada yang bersangkutan, bukannya air susu dibalas dengan air susu, tetapi justru dibalas dengan air tuba. Orang yang bukan hanya bersikap mementingkan diri sendiri, tetapi juga tidak mengenal budi.

Tuhan berkuasa atas pribadi yang sukar

Di saat kita menghadapi pribadi-pribadi yang sukar tersebut kita harus mengingat bahwa sesungguhnya Tuhan adalah pribadi yang berdaulat, oleh karena itu Ia berkuasa atas semua orang termasuk atas pribadi yang sukar tadi. Hal inilah yang menjadi keyakinan Daud terhadap Raja Saul.

Ketika salah seorang pahlawannya, Abisai, meminta ijin agar dirinya diperbolehkan untuk membunuh Raja Saul, di dalam 1Samuel 26:9-10 dicatat Daud menjawab Abisai sebagai berikut: “Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman? “Lagi kata Daud: “Demi TUHAN yang hidup, niscaya TUHAN akan membunuh dia: entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di sana.”

Dengan berkata seperti demikian berarti Daud mempercayai bahwa Tuhan adalah pribadi yang berdaulat yang dalam kekuasaan-Nya dapat mengatur kapan dan dengan cara bagaimana Saul akan berakhir kehidupannya. Dalam keyakinan tersebut maka Daud tidak merasa perlu harus membantu Tuhan untuk menyingkirkan Saul dari kehidupannya.

Pribadi yang sukar membentuk kita

Karena Tuhan adalah pribadi yang berdaulat maka Ia dapat bekerja dengan segala cara dan menggunakan segala cara untuk membentuk diri kita, yaitu dengan tujuan agar kita menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam karakter dan pola pikir kita. Itulah yang dikemukakan oleh Paulus di dalam suratnya Roma 8:28-29.

Di sana Paulus menulis sebagai berikut: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Tuhan turut bekerja di dalam segala sesuatu, termasuk di dalam relasi kita dengan “pribadi yang sukar.” Untuk apa? Untuk membawa kita menjadi serupa dengan gambaran Kristus, yaitu memiliki karakter Kristus di dalam kehidupan kita.

Sebagai contoh, kalau kita minta kesabaran, bagaimana cara Tuhan menjawab doa kita? Apakah Dia akan mengirimkan 1 kilogram kesabaran ke dalam hati kita? Bukan! Ia akan mengirimkan pribadi yang sukar ke dalam kehidupan kita untuk mengajar kita tentang bagaimana seharusnya kita bersabar,

Itu sebabnya di dalam Amsal 27:17 dikatakan: Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Artinya relasi dengan sesama akan membentuk diri kita.

Hal ini terbukti di dalam diri Daud. Kalau kita membaca Kitab Mazmur, kita akan menemukan bahwa justru di saat dirinya dikejar-kejar oleh Raja Saul, pada saat itulah Daud menulis banyak Mazmur kepada Tuhan. Justru di saat ia sedang menghadapi kesukaran dengan pribadi yang sukar, Tuhan membawa Daud semakin dekat dengan-Nya. Di sana Tuhan membentuk Daud dan menyiapkan Daud untuk menjadi raja terbesar dalam sejarah Israel.

Dengan kata lain, di saat kita menghadapi pribadi-pribadi yang sukar, entah dalam rumah tangga, pekerjaan maupun pelayanan, janganlah kita berputus asa ataupun berkeinginan untuk menyingkirkan mereka dari kehidupan kita. Tidak usah kita menjauhkan diri dari mereka dengan alasan: “Ah, tidak usah dekat-dekatlah, daripada nanti malahan jadi masalah.” Sebaliknya di dalam kasih mari kita tetap menerima mereka sambil memasrahkan diri kepada pembentukan Tuhan melalui pribadi-pribadi yang sukar tersebut.



About PGLII