Email: pgliipusat@gmail.com ✆: 0852 1117 8184 (whatsapp only), ☏ : 021 7252 831
banner

Profil

Pendahuluan dan Sejarah

Dua tahun setelah wadah oikumenis WCC (World Council of Churches) dibentuk pada tahun 1948 di Amsterdam – Belanda, pada tahun 1951 dalam Konvensi Internasional Evangelikal di Wondschoten dibetuklah organisasi World Evangelical Fellowship (WEF) atau Persekutuan Injili Se-Dunia. WEF menjadi wadah internasional bagi berbagai organisasi Kristen Injili. Sejak tahun 2002, World Evangelical Fellowship (WEF) berubah namanya menjadi World Evangelical Alliance (WEA).

Dua gerakan misi Kristen modern dicirikan oleh dua pola pendekatan, yang satu oikumeikal dan yang lainnya evangelikal.

Gerakan misi ini tentunya sangat berpengaruh bagi gerakan misi di Indonesia yang akhirnya juga terpolarisasi pada dua gerakan misi, yaitu oikumenikal dan evangelikal.

Gerakan evangelikal di Indonesia menemukan bentuknya melalui pergumulan yang intens dari tokoh-tokoh injili pada bulan Juni 1971 di City Hotel Jakarta dan pada bulan Juli 1971 di Batu, Malang – Jawa Timur, yang kemudian melahirkan Persekutuan Injili Indonesia (PII). Dalam catatan sejarah PII, kami melihat bahwa tolok ukur utama dalam pergumulan untuk mewujudkan gerakan bersama kaum injili di Indonesia adalah “persekutuan.” Kata kunci ini menjadi acuan awal dari gerakan, yang oleh karenanya sejak awal tahun 1969 tokoh-tokoh injili di Indonesia ketika membidani lahirnya gerakan dan wadah besar (PII) dimulai dengan kegiatan yang kelihatanyya kecil tetapi memiliki power yang sangat besar dan luar biasa, yaitu “persekutuan.”

Tokoh-tokoh injili menjadikan “persekutuan” sebagai wahana dan wacana untuk :

Membahas beban bersama dalam bidang pekabaran Injil dan misi di Tanah Air.
Menggumuli kebutuhan akan suatu wadah bagi Gereja, lembaga dan badan misi Injili di Indonesia.
Menampung aspirasi dari Gereja, yayasan dan badan-badan misi di Indonesia.
Bersekutu dan bersama-sama memberitakan Injil.
Persekutuan dan pergumulan bersama yang dilakukan selama dua tahun akhirnya melahirkan wadah yang besar dalam arus gerakan misi injili bagi gereja, lembaga, yayasan dan badan-badan misi injili di Indonesia.

Mendahului lahirnya Persekutuan Injili Indonesia, di Ramayana City Hotel, Tanah Abang – Jakarta, pada tanggal 15 Juni 1971 diselenggarakan persekutuan/pertemuan yang dihadiri oleh l.k. 100 hamba-hamba Tuhan. Dalam pertemuan tersebut disepakati 4 hal penting :

Nama wadah pelayanan/perjuangan bersama adalah Persekutuan Injili Indonesia.
Pengurus (sementara) ditetapkan sebagai berikut :
Ketua : Pdt. DR Petrus Octavianus
Sekretaris : Pdt. Willem Hekmann
Bendahara : Philip Leo
Pengurus (sementara) bertugas mempersiapkan Kongres Nasional I Persekutuan Injili Indonesia.
Pengurus (sementara) bertugas mempersiapkan konsep rumusan mukadimah lahirnya Persekutuan Injili Indonesia dan konsep AD/ART Persekutuan Injili Indonesia.
Pada tanggal 17 Juli 1971 di Batu, Malang – Jawa Timur dirumuskan mukadimah lahirnya Persekutuan Injili Indonesia (PII) dengan motto “Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil” yang didasarkan pada Matius 28:19 dan Galatia 5:13. Momentum ini ditetapkan sebagai hari lahirnya Persekutuan Injili Indonesia.

Tokoh-tokoh yang terlibat secara intens dalam pergumulan proses lahirnya PII adalah sebagai berikut :

Pdt. DR. P. Octavianus
Bp. Pdt. DR. Ais M. O. Pormes
Pdt. G. Neigenfrad
Pdt. W. Hekmann
Brigjen (purn) N. Huwae
Philip Leo
S. O. Bessie
Pdt. DR. HL Senduk
Ev. S. Damaris
Ernest Sukirman
Pdt. Andreas Setiawan