Email: pgliipusat@gmail.com ✆: 0852 1117 8184 (whatsapp only), ☏ : 021 7252 831
banner

Lompatan Terakhir

Kita harus menerima kebenaran secara utuh, untuk itu kita harus mau menerima Alkitab sebagai wahyu Allah tertinggi. Firman Allah yang mutlak benar. Kemutlakannya yang melintasi segala jaman dan yang mengatasi segala peradaban dunia. Tidak terkecuali kebenaran tentang Lima Jawatan Pelayanan (Ef. 4:11). Kebenaran ini harus mendapat porsi yang sama di dalam hal penekanannya pada mimbar-mimbar gereja. Ia harus paralel dengan pemberitaan tentang iman, kasih karunia dan bahkan kekudusan. Mengapa? Sebab hanya dengan menerima dan mengijinkan kebenaran tersebut maka Gereja Tuhan akan kuat. Menjadi jawaban bagi dunia serta memerintah dengan penuh kuasa.

Efesus 4:8 mencatat, “Tatkala Ia (Kristus) naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia,” garis bawahi kata tawanan dan pemberian. Dan selanjutnya ayat 11, “Dan Ialah (Kristus) yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.”

Sangat jelas yang dimaksudkan dengan pemberian-pemberian di sini ialah Jawatan Pelayanan. Mengenai tawanan-tawanan? Sebagai rasul, Paulus mengakui dirinya sebagai tawanan Roh (Kis. 20:22-24). Seorang yang berjawatan menjadikan dirinya tawanan Roh. Ia tidak dapat melakukan tugas-tugas pelayanannya atas inisiatif dan kehendaknya sendiri, tetapi mutlak tunduk pada kehendak, rencana dan keinginan dari Roh Kudus. Jadi dalam konteks ini “tawanan” juga berbicara mengenai Jawatan Pelayanan.

Lima Jawatan Pelayanan adalah karunia Tuhan Yesus bagi gereja-Nya saat Ia naik ke Surga. Pelayanan ini menjadi kepanjangan tangan Tuhan di bumi. Hal ini berbeda dengan karunia-karunia Roh Kudus (I Kor. 12:7-11). Jika karunia-karunia Roh merupakan pemberian Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kis. 2:1-4; I Kor.12:4), maka karunia Lima Jawatan merupakan pemberian Kristus pada saat Ia naik ke Surga (Ef. 4:8-11; I Kor.12:5).

Tuhan Yesus secara fisik saat ini tidak lagi di bumi. Ia telah duduk di sebelah kanan Bapa. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja, menetapkan beberapa orang untuk ikut memerintah dan melaksanakan kehendak Kepala atas gereja-Nya.

Lima Jawatan Pelayanan merupakan karunia Tuhan Yesus (Kepala Gereja) yang dipercayakan kepada siapa Kristus sendiri berkenan. Akan tetapi karunia ini lebih menekankan posisi seseorang di dalam tubuh Kristus (sebagai yang menerima mandat karena posisi ini ditinggalkan oleh Kristus yang naik ke Surga), dan bukan sebagai karunia rohani (spiritual gifts). Namun demikian Jawatan yang diterima seseorang itu dihidupkan oleh karunia-karunia Roh yang diberikan dan dikerjakan oleh Roh Kudus. Bahkan seringkali terjadi, seseorang menemukan posisinya dalam Pelayanan Lima Jawatan, setelah ia lebih dahulu menemukan karunianya (spiritual gifts) dan kemudian mengobarkan karunia Allah itu dalam hidup dan pelayanannya.

Pelayanan ini dipercayakan kepada siapa Kristus berkenan. Secara khusus dapat kita katakan bahwa siapa saja yang menerimanya mendapatkan kasih karunia Kristus. Saudara pun dapat menjadi salah satunya. Bagaimana kita tahu Kristus telah memilih kita?

Pertama, melalui buah pelayanan. Buah (hasil) pelayanan itu yang akan menunjukkan apakah kepada kita telah dipercayakan suatu Jawatan Pelayanan atau tidak. Sebab tidak semua orang yang berkarunia Roh otomatis menerima suatu Jawatan. Tetapi mereka yang menerima Jawatan pasti akan beroperasi di dalam karunia-karunia Rohani.

Seringkali terjadi seseorang menemukan posisinya dalam Pelayanan Lima Jawatan, setelah ia lebih dahulu menemukan karunianya (spiritual gifts) dan kemudian mengobarkan karunia Allah itu dalam hidup dan pelayanannya. Ketika orang itu mengobarkan karunia yang ada padanya, maka akan nampak buah-buah pelayanannya. Dan apabila buah yang dihasilkannya itu tetap (konsisten) maka hal ini dapat merupakan sebuah konfirmasi baginya bahwa Tuhan Yesus telah menganugerahkan kepadanya karunia jawatan tertentu. Sebagai contoh, seseorang yang bernubuat (sebab semua orang percaya yang dewasa rohani boleh bernubuat 1 Kor.14:31-33) tidak secara otomatis berarti ia berjawatan Nabi. Tetapi apabila ia secara konsisten mengobarkan karunianya itu, dan dapat menunjukkan ketajaman serta ketepatan dalam setiap nubuatannya, maka bisa jadi ia memang telah ditetapkan sebagai berjawatan Nabi.

Contoh lainnya, seseorang yang berkeliling dari satu mimbar ke mimbar gereja lainnya untuk berkhotbah tidak secara otomatis berjawatan Penginjil (Evangelist). Jawatan ini yang paling banyak “diplintir”, sebab dengan sangat mudahnya seseorang menambahkan “title” tersebut di depan nama mereka hanya karena mereka telah berkeliling untuk kotbah. Tetapi apabila seseorang dapat menunjukkan buah yang tetap dengan menghasilkan pertobatan jiwa-jiwa, maka ia adalah seorang dengan jawatan Penginjil. Yang perlu diingat, seorang penginjil tahu dimana sebaiknya (atau lebih tepat seharusnya) menebarkan jalanya untuk mendapatkan jiwa-jiwa yang terhilang. Ia seorang penjala jiwa di laut bebas, bukan di kolam sebelah rumah!

Kuncinya ada pada konsistensi, perhatikan perkataan Tuhan Yesus, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yoh. 15:16)

Kedua, melalui pengakuan. Diakuinya karunia jawatan dalam diri seseorang. Pengakuan (konfirmasi) harus datang pertama-tama dari Pemimpin (bapa) Rohani, lalu dari sesama hamba Tuhan yang menjadi rekan sekerja Allah, kemudian dari pengikut (jemaat). Esensi jawatan itu sendiri tidaklah terletak pada pengakuan tersebut. Melainkan pada berfungsinya jawatan tersebut dalam pelayanan seseorang. Meskipun demikian pengakuan ini penting justru demi berfungsinya jawatan itu secara maksimal. Bayangkan jika seorang yang berjawatan tidak mendapatkan pengakuan, katakanlah dari pengikutnya. Maka hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali, orang yang dengan sukarela menyatakan kesediaannya untuk tunduk kepada jawatannya. Jadi pengakuan ini juga penting agar seorang yang berjawatan dapat beroperasi atau berfungsi dengan maksimal.

Memang ada beberapa orang yang belum cukup dewasa (rohani), menjadi kurang sabar dalam menantikan pengakuan atas jawatan yang Allah anugerahkan kepadanya. Meskipun pengakuan ini sangat penting, namun pengakuan ini tidaklah sepenting berfungsinya jawatan tersebut. Sebab justru oleh berfungsinya jawatan itulah respek dan pengakuan datang kepadanya.

Bukankah promasi datang dari Tuhan? Akhirnya, kita semua harus membuka diri dengan menerima panggilan dan rencana Allah dalam hidup kita. Kita ini bejana tanah liat di tangan Penjunan Agung. Ia memiliki hak sepenuhnya untuk menentukan bagian kita dimana. Kita tidak perlu “mengemis” pengakuan, yang terpenting adalah saat ini kita mau mengobarkan karunia Allah yang telah kita terima (1 Tim.4:14-15). Mengijinkan beroperasinya karunia-karunia Roh Kudus dengan leluasa dalam hidup dan pelayanan kita, serta berbuah lebat dan tetap bagi Kerajaan Bapa.

Mungkin Saudara bertanya, “Bagaimana hal ini bisa terjadi dalam diri saya? Bukankah saya hanya jemaat biasa?” TIDAK! Saudara bukan jemaat biasa. Sebagai anggota Tubuh Kristus, semua orang percaya adalah pemegang janji yang akan menerimanya bersama dengan Kristus (Rom. 8:17). Bahkan Rasul Petrus menyebutkan dengan tepat jati diri orang percaya sebagai imamat yang rajani (1 Pet. 2:9).

Jadi tujuan Allah membangkitkan Pelayan-Pelayan yang berkarunia dan berjawatan adalah agar mempersiapkan dan memastikan semua orang percaya dapat mengambil bagian dalam tugas-tugas pelayanan. Bukan hanya untuk menerima pelayanan/dilayani. Memang ada kesalahpahaman yang terjadi di antara Jemaat maupun Pelayan Tuhan tentang siapa yang seharusnya dilayani dan siapa yang melayani. Di pihak Jemaat suatu pelayanan cenderung dilihat sebagai tugasnya Pelayan Tuhan (Pendeta). Mereka hanya sebagai kaum awam yang perlu mendapatkan pelayanan terbaik dari para Pelayan Tuhan tersebut. Sedangkan dari pihak Pelayan Tuhan, mereka berpikir bahwa merekalah wakil Tuhan yang seharusnya melayani jemaat. Jemaat sudah terlalu sibuk dengan segala urusannya, tidak seharusnya dibebani lagi dengan berbagai tugas pelayanan. Sejatinya jemaat hanya perlu datang setiap hari Minggu atau tengah minggu untuk dilayani kebutuhan rohaninya.

Padahal jika kita memperhatikan sungguh-sungguh firman Tuhan, maka di sana kita menemukan bahwa salah satu tugas Pelayan Tuhan adalah untuk memperlengkapi orang-orang kudus (percaya) bagi pekerjaan pelayanan, agar jemaat dapat melayani. Tugas melayani adalah tugas semua orang percaya sebab untuk itulah Kristus menebus kita, agar dapat berdiri sebagai imam-imam yang melayani dihadapan-Nya.

Jemaat harus memperbaharui mentalitasnya, dari jemaat “awam” menjadi jemaat yang melayani. Dari jemaat keliling menjadi jemaat yang tertanam dengan kuat. Dari jemaat yang memegang nilai-nilai duniawi menjadi berpegang teguh pada nilai-nilai kerajaan Allah.

Bukankah ini sebuah “lompatan” iman buat Saudara? Melompatlah dengan cantik bersama Allah dalam kebenaran. Sebab bisa jadi ini merupakan lompatan terakhir buat Saudara, atau mungkin Saudara akan tertinggal dalam kegerakan yang besar ini!



About PGLII