Email: pgliipusat@gmail.com ✆: 0852 1117 8184 (whatsapp only), ☏ : 021 7252 831
banner

Allah Memelihara Kita


Segala sesuatu yang terjadi di dunia senantiasa berada di bawah kontrol Allah. Kekuatan Allah yang terus menerus memelihara ciptaan-Nya. Allah terus berkarya dalam semua peristiwa yang terjadi untuk mengarahkan segala sesuatu kepada tujuan akhir yang telah Ia tetapkan.

Dalam Alkitab pemeliharaan Allah ini bersifat pemeliharaan Allah yang khusus. Dalam Roma 8:28, Rasul Paulus menuliskan tentang adanya pemeliharaan Allah yang khusus, yang Allah kerjakan untuk orang-orang percaya. Paulus menulis, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Pemeliharaan Allah yang khusus ini sifatnya terbatas, hanya untuk mereka yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Dalam terang ayat ini, pemeliharaan Allah memiliki obyek yang khusus yaitu orang-orang yang mengasihi Allah, yang sekaligus disebut sebagai orang-orang yang terpanggil oleh Allah sesuai dengan rencana dan tujuan Allah.

Pemeliharaan Allah disini, sangat jelas menunjuk kepada orang-orang percaya kepada Kristus saja, karena mereka adalah orang-orang yang terpanggil (Yun: “kletoi”) dalam rencana dan tujuan keselamatan Allah. “Mereka yang terpanggil” disini sama dengan “orang-orang yang dipanggil” (Yun: “kletoi”) yang menjadi milik Kristus dalam Roma 1:6. Oleh karena itu pemeliharaan Allah yang khusus ini hanya bagi kita yang menjadi milik Kristus.

Pemeliharaan Allah yang khusus ini sudah seharusnya kita ketahui dan sadari sepenuhnya sebagai “the privileges” kita. Ketika Paulus menguraikan pemeliharaan Allah yang khusus ini, ia memulai kalimatnya dengan “kita tahu sekarang” (Yunani: “oidamen hoti”). “oidamen hoti” adalah satu istilah yang sering digunakan oleh Paulus dalam Surat Roma (baca: 2:2; 3:19; 7:14; 8:22), yang merupakan suatu formula bahasa untuk mengintroduksi suatu fakta yang telah diketahui dan diterima secara umum. Itu berarti “kita tahu sekarang” menegaskan bahwa kita sewajarnya atau seharusnya tahu bahwa hal pemeliharaan Allah bagi orang percaya adalah fakta. Dengan kata lain bahwa pemeliharaan Allah yang demikian ini seharusnya sudah menjadi pengetahuan kita bersama.

Ketika berbagai peristiwa negatif menerpa, termasuk di antaranya penderitaan, kesulitan, masalah yang menekan, maka sebagai orang percaya, kita harus tetap meyakini Allah itu memelihara kita. Allah dalam Yesus Kristus dan oleh Roh Kudus tidak pernah absen memperhatikan dan memelihara kita. Hal ini dapat kita lihat, ketika Paulus menggunakan istilah “kita tahu” (”oidamen hoti”) di ayat 22 sebelumnya, yakni berkaitan dengan penderitaan ciptaan-ciptaan Allah. Orang percaya pun termasuk ciptaan Allah yang menderita dan sedang menantikan pengangkatan tubuh mereka. Dari hal ini nampak bahwa ada korelasi antara penderitaan kita dan pemeliharaan Allah. Oleh karena itu kita harus dengan sadar mengetahui bahwa penderitaan itu telah menjadi bahagian kita, tetapi sekaligus kita harus mengetahui juga bahwa bersamaan dengan penderitaan kita, Allah tetap memelihara kita.

Bukanlah hal yang tidak wajar jika orang-orang percaya mengeluh karena penderitaan mereka, tetapi seharusnya kita tidak hanya berhenti disana, karena dalam berbagai situasi dan kondisi, Allah itu tetap memelihara kita. Kesadaran yang demikian yang seharus ada di dalam pikiran dan hati kita.

Bagaimanakah kita memahami cara pemeliharaan Allah bagi orang-orang percaya? Dalam ayat ini Paulus memberikan penegasan, bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia…” Allah bekerja di dalam segala sesuatu, menunjukkan tentang kedaulatan-Nya atas segala sesuatu. Namun istilah “segala sesuatu” disini, bukanlah menunjukkan obyek pemeliharaan Allah. Karena yang menjadi obyek pemeliharaan Allah disini adalah orang-orang percaya itu sendiri.

Harus kita sadari bahwa ada kesulitan untuk memahami teks dalam bahasa Yunani dari ayat ini. Oleh karenanya muncul beberapa variasi penerjemahan. Teks Yunani dari ayat ini selengkapnya berbunyi demikian: “oidamen de hoti tois agaposin ton theon panta sunergei eis agathon, tois kata prothesin kletois ousin.” Terjemahkan secara harafiahnya adalah sebagai berikut: “dan kita tahu bahwa mereka yang mengasihi Allah segala sesuatu bekerja bersama untuk kebaikan, mereka yang terpanggil menurut rencana-Nya.” “Segala sesuatu” (Yun: “panta”) disini bukanlah sebagai obyek dalam struktur kalimat ini, sehingga bisa diterjemahkan dengan, ”Allah mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan.” Terjemahan seperti ini telah membiaskan arti sesungguhnya. Seharusnya “segala sesuatu” adalah keterangan pelengkap yaitu sebagai keterangan tempat. Kalimat dalam Alkitab berbahasa Indonesia Terjemahan Baru (TB) merupakan salah satu terjemahan yang mendekati pengertian yang tepat: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan …” “Dalam segala sesuatu” menunjukkan keterangan tempat. Demikian juga New International Version (NIV) menggunakan terjemahan yang baik: “And we know that in all things God works for the good …” “In all things” (di dalam segala sesuatu) adalah keterangan tempat, dimana Allah bekerja untuk kebaikan bagi orang percaya.

Maksud dari pengertian di atas bahwa Allah tidak mengerjakan segala segala sesuatu, khususnya menyangkut kejahatan atau hal-hal yang jahat atau yang buruk. Tetapi segala sesuatu ada di dalam kontrol Allah dalam kedaulatan-Nya. Jika Allah mengizinkan kejahatan berlangsung di dunia ini, maka hal itu ada dalam prapengetahuan (Yun: “pronoia”) Allah. Istilah “pronoia” Allah adalah berbicara tentang pengetahuan dan penglihatan Allah sebelumnya, yang di satu sisi berkaitan dengan rencana-Nya untuk masa datang dan di sisi lain hal itu berkaitan dengan pelaksanaan dari rencana Allah tersebut. Itu sebabnya ketika kejahatan berlangsung, hal itu bukan disebabkan oleh Allah, tetapi juga bukanlah “dibiarkan” oleh Allah. Allah hanya mengizinkan kejahatan itu berlangsung (artinya bersifat “permissive”). Dengan kata lain Allah tetaplah berdaulat untuk mengontrol sepenuhnya kejahatan, sehingga kejahatan itu tidak berlangsung secara liar tanpa ada yang dapat menghentikannya. Allah mengizinkan kejahatan, karena Allah mengarahkan segala sesuatu pada tujuan akhir yang telah Ia tetapkan.

Pemahaman demikian dapat kita lihat dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang lalang dan gandum dalam Injil Matius 13:24-30, ketika hamba-hamba itu ingin mencabut lalang-lalang itu, tuan mereka melarang, agar jangan sampai ada gandum yang turut tercabut juga. Baru pada masa penuaian, terjadilah pemisahan, lalang dikumpulkan untuk dibakar dan gandum dikumpulkan untuk disimpan dalam lumbung. Makna perumpamaan ini bersangkut-paut dengan tujuan akhir segala sesuatu, namun juga berbicara tentang pemeliharaan orang-orang percaya oleh Allah (ibaratnya supaya jangan ada gandum yang tercabut).

Ada banyak orang yang meragukan kedaulatan Allah yang mengontrol kejahatan di dunia ini. Bahkan mereka menuding sebagai “keabsenan” Allah dalam bertindak atas kejahatan. Namun sebenarnya Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, termasuk mengontrol kejahatan untuk kepentingan obyek yang dipelihara-Nya yaitu orang-orang percaya, supaya mereka mengalami kebaikan. Demikian pula Allah kita berkuasa atas iblis yang menjadi musuh gereja. Iblis bukanlah lawan yang setara dari Allah. Kuasa iblis tidak setara dengan kuasa Allah. Iblis adalah musuh yang telah dikalahkan. Iblis tetaplah dalam kontrol Allah yang berdaulat, karena Allah adalah Mahakuasa. Allah tetap memerintah di dalam dunia ini, sehingga segala sesuatu tetap berada di bawah kedaulatan Allah. Allah tetap berdaulat sehingga Ia tetap memelihara umat pilihanNya dan menjaga mereka.

Kadang kala kita menilai suatu peristiwa dari sudut positif atau negatif. Yang mudah untuk kita terima adalah segala sesuatu yang kita nilai adalah positif, namun sangat sukar untuk kita menerima hal-hal yang negatif. Namun dalam beberapa peristiwa yang dicatat Alkitab, ada banyak peristiwa yang negatif, tetapi muaranya adalah kebaikan bagi orang-orang milik Allah. Contoh perbuatan jahat saudara-saudara Yusuf atas Yusuf, namun Allah bekerja di dalamnya untuk kebaikan. (Kej. 50:20) Demikian pula dengan pembuangan bangsa Yehuda di Babel. Akhirnya Allah berbicara tentang rancangan damai sejahtera dan pengharapan di hari depan, bukan rancangan kecelakaan. (Yer. 29:10,11)) Hal yang paling jelas adalah peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, sebagai hal yang paling buruk. Namun penyaliban Tuhan Yesus telah menjadi jalan penebusan dan keselamatan bagi umat pilihanNya. (Kis. 2:23; 4:27,28) Oleh karena itu, Allah bekerja di dalam segala sesuatu menunjukkan kedaulatan Allah yang memerintah atas segala sesuatu. Bagi kita, orang-orang percaya, di dalam “segala sesuatu” tercakup juga penderitaan, kesulitan, masalah, tantangan, kejahatan yang telah, sedang bahkan akan kita alami dalam perjalanan hidup kita mengikuti Tuhan Yesus. Namun dalam pemeliharaan Allah, semuanya akan bermuara kepada kebaikan.

Kebaikan bagi orang percaya adalah goal dari segala pekerjaan pemeliharaan dan pemerintahan Allah. Hal yang terutama dari “kebaikan” adalah berbicara tentang keselamatan orang yang mengasihi Allah. Pemahaman providensia Allah harus dipahami dari sudut karya keselamatan yang dikerjakan Allah melalui dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Jika Allah telah menyelamatkan gereja-Nya melalui Yesus Kristus, maka Allah yang sama akan memelihara umat-Nya yang telah Ia selamatkan. Tujuan kebaikan dalam pemeliharaan Allah ini tetap terjadi juga dalam perjalanan hidup gereja-Nya sekarang. Ketika gereja dihadang oleh berbagai kesulitan, masalah dan pergumulan, Allah senantiasa memberikan jalan keluar. Allah tidak membiarkan gereja-Nya sendirian menghadapi tantangannya.

Paulus menegaskan: “… bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” Sebagaimana termaktud dalam 2 Kor. 4:7b-9, Allah senantiasa hadir dalam kehidupan gereja-Nya dan membuktikan pemeliharaan-Nya yang membawa kepada kebaikan. Namun jika gereja-Nya harus mengalami penderitaan, maka penderitaan itu tidak akan sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan bagi gereja-Nya dalam persekutuan kekal dengan Kristus. Paulus mengatakan bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. (Roma 8:18).

Marilah kita mensyukuri bahwa sampai dengan saat ini Allah tetap berkarya dalam pemeriharaanNya untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Allah, yaitu bagi orang-orang yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

https://www.pglii.or.id/wp-content/uploads/2018/07/20180411_prayer-979×514.jpg


About PGLII